Hipmala ku sayang….

Maret 5, 2008

“SANG BUMI KHUWA JUKHAI”

Filed under: Tak Berkategori — hipmala @ 5:19 am
Tags:

oleh : Novan Adi Putra Saliwa

Aktivis HIPMALA Yogyakarta

Lampung sai…..!
sang bumi khua jukhai
Demikian sepenggal kutipan lagu yang cukup terkenal pada sebahagian masyarakat lampung, namun sayangnya tak banyak yang paham atau mengerti tentang arti dan makna filosofis dari sepenggal kalimat diatas. Dalam tulisan ini pembahasan bukan pada persoalan yang tibul diatas namun fokus kepada fenomena yang timbul di bumi lampung tercinta. Ketika saya pulang pada waktu liburan bulan agustus 2007 kemarin, terdapat papan iklan berukuran besar yang terpasang dipinggir jalan raya yang didalamnya bertuliskan “ Sai bumi Ruwa Jurai”. Dan tidak hanya itu saya pun pernah membaca disebuah buku yang berjudul “Kiyai Udin” buku yang menceritakan biografi sang gubernur lampung yang didalam nya banyak sekali kata- kata “sai bumi ruwa Jurai” serta masih banyak lagi pengalaman lainya khusus berkenaan dengan kata-kata diatas. Sebenarnya jika kita perhatikan dari kata “Sai Bumi Ruwa Jurai” memang tak memiliki unsur yang perlu untuk diperdebatkan, toh arti dan maksud dari kata tersebut tidak jauh berbeda dengan kata awalnya” sang bumi ruwa jurai” yang saya anggap kata ini adalah ungkapan warisan dari tokoh lampung terdahulu. Namun yang menjadi perhatian saya adalah ketika kita tidak mengetahu alasan apa dan mengapa kata “ Sang” berubah/berkembang menjadi “Sai”. Sepele memang persoalannya, namun bagi saya ini merupakan hal yang substansial dan perlu dipecahkan agar tidak terjadi kerancuan dalam makainya. Seringnya kita sebagai masyarakat awam hanya menganggap hal- hal seperti ini adalah sesuatu yang remeh padahal kita tidak tahu bagaimana perjuangan para tokoh pendiri lampung terdahulu untuk menciptakan dan mewujudkan kalimat bermakna besar ini”Sang Bumi Ruwa Jurai”
Sedikit telaah teoritis mengenai kata”Sang”, bahwa didalam kamus bahasa lampung hasil susunan Drs.H.Fauzi Fattah, MM.(penterjemah bahasa belalau dan pesisir), M.Daud HS.(pubian dan sungkai), H.Ramli Usman (abung), dan Drs.Abu Thalib Khalik, M.Hum.(tulang bawang), terbitan Gunung Pesagi tahun 2002, disebutkan bahwa kata se- terjemah dalam bahasa lampung adalah sanga/sango (sang) berturut-turut menurut dialek A/O. Pengambilan kata “sang” untuk kalimat “sang bumi ruwa jurai” bertujuan agar kedua dialek A/O dapat sama-sama menggunakannya. Kata se- sendiri memiliki tafsiran atau tujuan untuk menyatukan beberapa komponen menjadi satu dalam satu sifat, contohnya kata sebangsa, sehati, sejalur dan yang lainya, kata-kata tersebut semuanya berpengertian bahwa ada beberapa komponen didalamnya yang ingin di satukan dalam satu sifat.
Dengan kata lain bahwa arti sang = se, bumi=bumi, ruwa=dua, jurai=cabang, maknanya adalah didalam satu bumi (lampung) terdapat dua cabang yakni pesisir dan pepadun, dalam tafsiran lain disebut dengan penduduk pendatang dan asli. Kedua komponen besar ini ingin disatukan dalam kalimat “sang bumi ruwa jurai”.
Untuk itu setidaknya ada dua pesan yang dapat kita petik daripenjelasan makna kata “sang bumi ruwa jurai” diatas yaitu, pertama, kalimat itu adalah kalimat yang bertujuan untuk menyatukan dua jurai besar dilampung, kedua, kalimat tersebut adalah kalimat warisan dari para tokoh terdahulu dilampung yang menjadi kalimat dalam pita pada lambang provinsi lampung .
Nah! sekarang yang tidak kita ketahui adalah mengapa harus muncul kalimat baru”Sai bumi ruwa jurai”? padahal kalimat terdahulu memiliki makna yang begitu luhur dan mendalam. Terlepas dari banyaknya perbedaan bahasa dilampung yang merupakan tanda bahwa kita kaya akan budaya, setidaknya dalam melakukan sesuatu, apa lagi yang berhubungan dengan adat atau budaya, kita haruslah tahu bahkan memahami makna luhur yang terkandung didalamnya.

About these ads

4 Komentar »

  1. kenapa saya yan9 men9aku oRg Lampun9 ini 9k peRnah sekaLipun menCoba unTuk tau tentan9 haL” y9 beRhubun9an den9an Lampun9 ya..?
    PadahaL saya suDah meRasa ikuT beRjuan9 men9haRumkan nama daerah saya di daErah Lain..
    teRnyata uSaha saya itu beLum seBeraPa dibandin9kan peRjuan9an anak daeRah yan9 teruS beRusaha men9angkaT nama daeRahnya juStru den9an men99aLi kekayaan Bumi Lampun9 yan9 teRsiRat..

    aYo bikin aRtiKeL yan9 banyaK kak..!!!
    saYa yakin bukan cUma saYa y9 mw tw tt9 daErah qt teRcinta ini..
    Sman9aT ..!!!!

    .deMimu Lampun9ku paDamu BhakTiku.

    Komentar oleh eRn — Maret 18, 2008 @ 5:17 pm | Balas

  2. erin juga buat artikel tentang lampung ya….biar sama-sama semangat….

    Komentar oleh hipmala — Maret 19, 2008 @ 4:33 am | Balas

  3. Tabik pun untuk Novan

    Alhamdulillah ada anak Lampung di Jogja yang sudah membaca buku Kiay Oedin. Kebetulan, saya adalah salah satu ketua tim pengumpul materi, editing dan mengurusi percetakannya buku itu juga. Kalau saya tidak salah tebak, Novan pasti memperoleh buku itu dari Faisol ‘Asrama Lampung’.

    Terkait ‘sosialisasi’ Sai Bumi Ruwa Jurai yang memang dikesankan untuk ‘menggeser’ Sang Bumi Ruwa Jurai, saya pribadi mengakui hal tersebut memang dilakukan dengan sengaja.

    Sekedar telaah sejarah, saat Lampung pertama kali berpisah dengan Sumatera Selatan dipilihlah sebuah lambang dan jargon. Waktu itu dipilih gambar Siger dari visualisasi mahkota pengantin perempuan dan jargon ‘Sai (BUKAN SANG) Bumi Ruwa Jurai’.

    Belakangan, hal itu berubah seiring populernya lagu karangan sahabat saya – juga penyair hebat dari Lampung – Syaiful Irba Tanpaka. Lagu Bang Iful memang sangat populer karena disosialisasikan lewat sekolah-sekolah dan menjadi ‘semacam’ lagu wajib daerah Lampung. lirik yang paling terkenal yah seperti yang Novan tulis; Lampung Sai, Sang Bumi Ruwa Jurai.

    Saya sangat yakin saat menciptakan lagu itu Bang Iful yang sekarang adalah Ketua Harian Dewan Kebudayaan Lampung itu tak pernah punya niat untuk merubah jargon provinsi yang tersampir di lambang provinsi kita itu. Lagu itu dibuat tentunya dengan pertimbangan rima, bebunyian, nada dan nilai-nilai estetika musikalitas.

    Memang cukup menyedihkan saat ini budaya Lampung hanya dikenal sebagai budaya kelas minor oleh anak mudanya. Dengan komposisi etnis yang ada sekarang pun sulit mengharapkan untuk menjadikan budaya Lampung jadi tuan rumah di wilayah geografisnya sendiri. Jadilah, orang Lampung secara dangkal hanya mengenal ‘Siger’ dan ‘(lagu) Sang Bumi Ruwa Jurai’ untuk sekedar mencirikan ke-Lampung-annya secara adat dan budaya.

    Salah satu upaya untuk kembali memopulerkan motif jukung dalam seni arsitektur dan ornamentasi Lampung sudah cukup berhasil. Jikalau diperhatikan, simbol itu mulai muncul sekitar sepuluh tahun ke belakang. Itupun tak lepas atas ‘bantuan’ teman-teman DKL dan media massa yang mencoba memberi ‘pengetahuan’ ke publik bahwa ‘motif jukung’ atau ‘jung’ juga sangat ‘khas Lampung’ yang bisa dibuktikan dengan ragam arsitektur dan gambar di tapis-tapis tua. Memang ada simbol-simbol lain seperti beberapa jenis hewan, tetapi jung cukup mudah diingat dan diaplikasikan.

    Jadi, kalau keluar kembali istilah ‘Sai Bumi Ruwa Jurai’ bukannya tidak menghargai sejarah. Malah kebalikannya, kita ingin mengembalikan ke jejak sejarah yang (mungkin) lebih benar. (pen, saya menggunakan kata mungkin karena sejarah tidak pernah diklaim benar-salah). Karena dari beberapa tuturan pelaku sejarah, tahun 1964 itu memang ‘Sai Bumi Ruwa JUrai’ bukan ‘Sang Bumi Ruwa Jurai’. Pasal dalam proses dan ‘sejarah’-nya ada lagi Iful itu, lagi-lagi kita harus mengakui bahwa itupun ada sejarahnya. Untuk lagu ini mungkin lebih mudah karena Syaiul Irba masih ada, sehat dan bercokol di jagad kesenian Lampung.

    Tapi, semua boleh mendebat dan berbeda pendapat. Jikalau ada yang mau menulis khusus soal masalah ini, saya sambut dengan tangan terbuka. Kebetulan, percetakan dan penerbitannya punya sendiri juga kok, he he he..

    Tabik pun..

    Komentar oleh Adolf Ayaullah Indrajaya — Agustus 17, 2008 @ 3:31 pm | Balas

  4. alhamdulillah ada abang yang mau meluruskan artikel saya itu, kidang ngapi sai ditulis dilom lambang no sang bumi lai hak sai bumi, api ikkah mani lagu ni bang iful no. ku pikir mawat se remeh kheno. khik ku pikir lagu senno mak ngedok masalah,ya khadu pas khik pantas dilom kalimat senno guwai nyampaiko maksud-maksud sai terkandung dilomni.selain hinno kT sang sesuai jama kaidah bahas lampung,terlepas jak sejarah sai masih tersembunyi khik mekhalang sai pandaino.
    bang..! ki dapok kik haga meluruskan sesutu di harus ditinjau jak sejarahni kheno muneh mak lupa di tinjau jak makna kaidah ni. karena banyak sekali orang lampung sekarang ini yang tidak tahu bahasa lampung apalagi kaidahnya. bahkan banyak yang malu mngakui bahwa dirinya adlh orang lampung. bagimana kita akan tahu sejarah yang tidak jelas tiu sedangkan kita sendiri belum tahu bahasa lampung. sepertinya usaha untuk menggeser kata sang menjadi sai (yang katanya itu yang asli) merupakan usaha yang tidak gampang.dan saya kira kata itu telah tertulis resmi dalam lambang dan bagi sebagian msyarakat kata sang memang pas kaidahnya dibanding kata sai. sebagai contoh: dalam masyarakat lampung kalau ada dua orang berada dalam satu kamar maka disebut tiyan khuwa sang kamar. jika ada roti-roti dalam satu kotak maka disebut khuti sang kutak, jarang dan kurang pas jika sai kamar dan sai kutak. kalau abang dan saya naik mobil itu namanya nekham sang mubil. ketika ada dua jukhai dibumi lampung maka kalimat lampung yang cocok adalah sang bumi khuwa jukhai. seperti kata sebangsa,sehati,setanah air,sebumi ruwa jurai. kebudayaan lahir dari kebiasaan adat setempat.
    kidang mak ngedok masalah unyin pendapat wat hujjahni masing-masing.khik di pandai mak helau terlalu memaksakan pendapat. unyinna helau, sai mak helau sai mak pandai bahasa lampung khik mak haga nyepok pandai padahal ya mengan jak tanoh lampung. khiknya pekhkilu mahp jam abang kitu wt salh cawa. maklum ilmu ku ji kukhang api lagi ilmu injuk abangno.
    sang bumi sai hati jejama ngebangun lampung.
    sang lamban sai khencaka sai batin khik pepadun.
    sang himpun sai budaya kham junjung.
    sang bumi khuwa ukhai mahap sikindua pun.

    Komentar oleh saliwa becakap — September 3, 2008 @ 2:26 pm | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: