Hipmala ku sayang….

Maret 5, 2008

Adok Antara keluruhan dan Reformasi

Filed under: Opini — hipmala @ 2:48 am
Tags:

Oleh : Novan Adi Putra Saliwa*

Mahasiswa Univesitas Islam Negeri Yogyakarta

Provinsi lampung merupakan salah satu buah dari kebudayaan yang ada di nusantara, yang kalau kita cermati tidak hanya memiliki hewan besar seperti gajah saja tetapi juga memiliki budaya luhur dan besar bagi masyarakatnya yang juga patut untuk kita hargai.

Dalam kehidupan adat budayanya ada beberapa hal yang hingga kini masih dipengaruhi oleh adanya kerajaan-kerajaan tua, yakni sistem adat dan dalam hal panggilan-panggilan untuk seseorang(petutokhan). Sebutan atau panggilan yang sanggat di segani pada masyarakat lampung adalah suntan/sultan(raja), sama seperti daerah indonesia pada umumnya. Didalam kamus bahasa indonesia, sultan sama artinya dengan raja, raja berarti kepala negara/pemimpin disebuah kerajaan dan dalam arti tersebut seorang sultan sangatlah disegani dan dihormati. Oleh karena itu ada beberapa pertimbangan yang mengatur hingga dapat menaikan seseorang menuju gelar/adok sultan. Pada masyarakat lampung kata sultan berubah menjadi suntan/suttan, ini disebabkan logat dalam bahasa lampung hurup L, N, dan M cara pembacaannya luluh ( kantor = kattor, lampung = lappung).
Namun pada perkembangannya ada sesuatu yang menarik untuk di perhatikan yang terjadi pada sebagian masyarakat lampung, yakni gelar (adok) suntan banyak sekali diminati dan banyak menempel pada nama –nama seseorang, bahkan gelar/adok suntan, dapat dimiliki oleh siapa saja yang mau dan memiliki finansial yang cukup.
Pertimbangan Pengankatan Adok Suntan/Raja
Pada masayarakat yang sangat menjunjung gelaran(adok)bada beberapa pertimbangan untuk dapat mencapai adok suntan/sultan (raja). Yakni dengan permufakatan sidang adat dengan memperhatikan kesetiaan seseorang kepada garis dan aturan adat. Jika seseorang dinilai telah memenuhi syarat dan mematuhi garis, ketentuan dan aturan adat, untuk seterusnya keturunannya dapat dipertimbangkan untuk dinaikkan setingkat pangkat adatnya. Namun jika yang terjadi sebaliknya kemungkinan untuk keturunannya pangkat adat itu tetap atau bahkan diturunkan. Pertimbangan yang kedua untuk menaikkan pangkat adat seseorang adalah dengan melihat jumlah bawahan dari seseorang yang akan dinaikkan pangkat adatnya. Seseorang yang yang menyandang pangkat adat atau Gelaran yang disebut ADOK harus memiliki bawahan yang berbanding dengan kedudukan pangkat adatnya. Suntan membawahi beberapa Raja juku, bahwa seorang Raja membawahi seorang Batin, dan seorang Batin membawahi seorang Minak, seorang Minak membawahi dua orang Mas, setiap Mas membawahi dua orang Kemas dan setiap Kemas membawahi lima Lamban atau lima rumah/keluarga.
Gelaran atau Adok -DALOM, SUNTAN, RAJA, RATU, panggilan seperti PUN dan SAIBATIN serta nama LAMBAN GEDUNG (rumah adat/kraton) hanya diperuntukkan bagi Saibatin Raja dan keluarganya dan dilarang dipakai oleh orang lain. Dalam garis dan peraturan adat tidak terdapat kemungkinan untuk membeli Pangkat Adat, terutama di dataran Sekala Brak sebagai warisan resmi dari kerajaan Paksi Pak Sekala Brak. Munculnya Suntan/Penyimbang Kecil Setelah penyebarannya keseluruh penjuru lampung yang mengikuti aliran aliran way (sungai) yang ada dilampung, Warga Negeri yang memiliki hubungan genealogis dari salah satu Paksi Pak Sekala Brak dan beberapa kelompok pendatang dari daerah lain yang menempati wilayah yang baru, dan di wilayah baru ini tentu jauh dari pengaruh Saibatin serta Garis, Peraturan, dan Ketentuan adat yang berlaku dan mengikat. Ditempat yang baru ini tentu dengan sendirinya harus ada Pemimpin dan Panutan yang ditaati oleh kelompok, ditempat baru itu untuk membentuk suatu komunitas baru dan memilih seseorang sebagai Pimpinan Komunitas, sewajarnya dipastikan bahwa seseorang tersebut adalah yang memiliki kekayaan dan kekuatan untuk dapat melindungi komunitasnya. Namun dalam perkembangannya kini rupanya diwilayah baru ini tidak ada ketentuan tentang Pangkat Adat seperti pada daerah asalnya, dan dengan melihat kenyataan yang ada bahwa Gelaran Gelaran atau Adok yang Sakral dan dipegang teguh di Paksi Pak Sekala Brak ternyata bahkan menjadi suatu gelaran umum didaerah ini.
Secara psikologis pengamat belanda menarik beberapa kesimpulan tentang masyarakat lampung pada umumnya, yang mengatakan:
… bahwa orang lampung hidupnya sederhana, tetapi karena kemegahannya suka memakai nama-nama besar, wanita-wanita memakai perhiasan berlebihan, menghamburkan biaya pesta adat, enggan menjadi kuli di kampung sendiri, mudah percaya kepada orang lain, terlalu memanjakan anak-anak, para pemuda membuang waktu berpacaran (Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung, 1989:16).
Kesan pengamat Belanda itu disamping belum tentu benar semuanya, dan kalupun ada benarnya, tentu kini telah banyak berubah.

* Rujukan: Kitab – kitab tambo nagari skala brak.
* kritik saran diterima bila dalam bentuk tulisan.

1 Komentar »

  1. Menarik sekali,
    Aku yang katanya orang lampung (sebab orang tua dari sana), gak pernah ngerti tentang lampung.
    Thanks ya

    Cheers, frizzy2008.

    Komentar oleh Fahmi Rizwansyah — Oktober 3, 2008 @ 7:22 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: