Hipmala ku sayang….

Maret 5, 2008

Pemimpin yang paham Multikulturalisme Budaya

Filed under: Opini — hipmala @ 5:16 am
Tags:

Oleh : Wahyu Hidayat

Aktivis HIPMALA Yogyakarta

Indonesia dari segi geografis terlihat luas sekali, seperti sepenggal lagu ” dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah indonesia”. dengan kondisi seperti itu wajar ketika disebut multikultur karena berbagai macam kultur, suku, bahasa, adat-istiadat yang berbeda antara daerah yang satu dengan yang lainnya.

Multikulturisme di indonesia memang wacana yang sering dibicarakan banyak kalangan, dari politisi, ekonom, budayawan dll. Tapi intuk mewujudkan itu dalam kehidupan sahari-hari masih membutuhkan dari banyak pihak.

Kesatuan budaya yang selama ini di diagung-agungkan dan dijaga dengan sangat sentralistis oleh negara. Namun, begitu negara tidak kuat lagi melakukan kontrolnya, begitu sumber ekonomi negara tidak ada lagi yang bisa di bagikan, begitu alat represif negara tidak lagi selalu hadir menekan rakyat, etnisitas muncul sebagai identitas diri melekat dengan sebuah wilayah atau dalam istilahnya Cendikiawan muslim kita bapak Dr. Moeslim Abdurrahman, MA dikatakan sebagai Host Culture.

Secara politik, etnisitas menjadi persoalan serius di indonesia takkala sentralisasi ambruk, menjadi desentralisasi yang melahirkan batas-batas adminstrasi politik baru. Kemudian muncul kembali keinginan untuk mempunyai kedaulatan di daerahnya atau host culture. tidak heran kalau kemudian sering kali muncul rengekan yang mempertanyakan siapa yang menjadi tuan rumah disuatu wilayah. atau sering kali muncul pertanyaan bahwa kamilah yang seharusnya menjadi tuan rumah.

etnological nasionalisme

Hal seperti terjadi di Lampung dalam pesta demokrasi kali ini. Para calon gubernur beramai-ramai mencari pasangan dari salah satu etnis yang mayoritas. memang sulit ketika budaya harus dijadikan kendaraan politik. apa yang terjadi? Kita tunggu siapa yaang akan terpilih. ketika nanti muncul persoalan etnological nasionalisme dimana ada beberapa wilayah atau kawasan yang mayoritas atau minoritas salah satu etnis dengan kekayaan sumber alamnya, tetapi penduduknya masih miskin.

Pada saat itu kemudian muncul kesadaran-kesadaran etnis yang dikaitkan dengan kepemilikan wilayah dan mersa teraniaya oleh sistem pembagian ekonomi yang tidak adil. Ditambah lagi adanya pembagian wilayah politik yang tidak selalu sama dengan wilayah etnik, yang sering kali memunculkan persoalan karena sebelumnya sudah muncul kesadaran Host Culture. Belum lagi munculnya perasaan sentimen etnis sebagai “penguasa” suatu wilayah merasa dipinggirkan secara ekonomi, merasa mendapat posisi layak secara politis. Padahal, pemikiran semacam itu sebelumnya tidak pernah muncul. Mungkin dilihat dari sisi ini saja bisa dikatakan ada kemunduran dari pemahaman kebangsaan kita. Namun, perkembangan kesadaran semacam ini masih normal. Artinya, ketika tidak ada lagi yang bisa dipakai untuk memperjuangkan, orang akan kembali kepada sentimen etnisitas.

Rasa Keadilan

Dengan berbagai macam persoalan yang terjadi, dari pemerintah daerah pun sepertinya tidak terlalu banyak memeberikam penyelesaian pada tataran Budaya. Sekarang hanya membicarakan bagaimana menghidupkan kembali ekonomi, menata pertumbuhan industri dan Pariwisata, padahal yang harus di tata kembali adalah bagaimana menata kemajemukan masyarakat agar roda ekonomi dapat menjadi lebih baik lagi. saya pikir, rasa keadilan sosial, bagaimana pendistribusian ekonomi dan kesejahteraan dengan baik, merupakan sebagian dari jawaban yang bisa mengurangi perasaan masyarakat yang menjadi korban. sebab, perasaan seperti inilah yang pada akhirnya mendorong fragmatisme berbagai suku bangsa dan anak suku bangsa.

Distribusi ekonomi yang tidak merata, ketika bertemu dengan hilangnya rasa solidaritas sosial, maka orang akan kembali lagi ke uint awalnya, etnisitas. Apalagi, kebanggaan terhadap bangsa dan daerah sendiri tidak ada. semoga pemimpin Lampung kedepan mampu memahami dan mengerti akan kemajemukan kultur masyarakat. tabik.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: