Hipmala ku sayang….

Maret 6, 2008

Politik Adu Kambing dalam Pilgub

Filed under: Tak Berkategori — hipmala @ 3:51 am
Tags:

Jauhari Zailani

Pengamat Politik, Dosen Universitas Bandar Lampung

Kesibukan Sjachroedin (Oedin) hari-hari ini tidak kepalang repotnya; pontang-panting sejak pagi hari hingga malam hari dari menggalang dukungan lembaga adat, pengajian, peresmian hingga pembukaan berbagai cara resmi dan tidak resmi. Maklum sang Gubernur, bisa menjadi multiwajah. Pagi hari sebagai gubernur kepala daerah, ia menyerahkan bantuan alat pertanian dan berdialog kepada perkumpulan petani se-Lampung.

Usai acara protokoler tersebut ia menjelma menjadi ketua PDI-P dan berjaket merah berjumpa dengan kader banteng gemuk. Selang beberapa jam kemudian ia menghadiri pertemuan para ulama agama dan sejumlah tokoh masyarakat. Malam harinya ia menghadiri perkawinan di sebuah gedung, keluarga pengantin sudah menunggu momen potret bersama sang Gubernur.

Meski sudah letih, sesampai di rumah dinas, ia telah ditunggu sejumlah orang: Elite jajaran birokrasi, kerabat maupun tokoh adat yang aktif menjadi tim suksesnya. Para birokrat memfasilitasi dana dan siap mobilisasi dukungan pada wilayah kekuasaannya maupun tempat di mana dia dahulu pernah berkuasa.

Demikian juga para tokoh adat sudah menyiapkan sederet acara yang dapat dihadiri Pak Oedin. Elite PDI-P membahas sejumlah nama yang akan menjadi wagub-nya, dan menyiapkan apel kader untuk pemenangan Pak Oedin pada pilgub mendatang. Itulah gambaran singkat betapa sibuknya sang incumbent yang diusung PDI-P dalam pilgub mendatang.

Sementara itu, di Jalan Arif Rahman Hakim pagi-pagi telah parkir sedan polisi yang siap mengawal Alzier D. Thabranie (Alzier) menuju ke suatu tempat. Sang Ketua Partai Golkar ini sepanjang jalan tersenyum puas menyaksikan spanduk dan baliho dengan Slogan, semboyan dan potretnya menghiasi wajah Kota Bandar Lampung.

Tidak lama kemudian ia sampai di lokasi pertemuan dengan sejumlah tokoh adat yang mendukungnya. Usai acara itu, ia telah ditunggu sejumlah kader Partai Golkar yang mengadakan lomba kuda lumping dan sunatan massal. Tidak lupa ia singgah di kediaman kiai pemimpin pondok pesantren untuk mohon dukungan dan restu.

Setelah itu sekelompok kader telah menunggu sang ketua membuka turnamen bola Voli yang memperebutkan piala Alzier. Usai magrib ia telah ditunggu sejumlah pimpinan partai politik untuk mematangkan koalisi dan dukungan.

Tidak kalah sibuknya, calon-calon lain yang telah masuk bursa calon gubernur dalam rangka mencari perahu. Sebutlah Andy Achmad yang tablig akbar dan sibuk menyiapkan kontes musik Melayu. Zulkifli Anwar, Sofjan Jacoeb, Hairi Fasyah, dan Suharto. Sementara itu, Oemarsono yang berpasangan dengan Thomas Riska, meski sudah deklarasi, tetap belum aman. Setidaknya gerombolan partai pendukungnya sangat rapuh. Entah apakah pasangan ini dapat mempertahankan hingga detik-detik terakhir pendaftaran di KPUD?

Tulisan ini menggugah. Mungkin juga menggugat partai-partai tengah yang masih berkutat, soal siapa dan berapa bahwa ada agenda yang lebih besar bagi partai politik; pendidikan politik, kaderisasi, penyampai aspirasi, maupun penyelesai konflik, mungkin terabaikan.

Koalisi untuk Perbaikan Citra?

Sejumlah tokoh Lampung ikut meramaikan pasar politik. Lelang dan tender perahu pada awalnya setidaknya diikuti sepuluh tokoh. Sejumlah tokoh telah meredup dan hilang dari bursa calon.

Menarik jika kita mencermati pergerakan koalisi partai yang dapat diikuti dengan telanjang dari sejumlah media massa. Sejak penjaringan dan pendaftaran di partai, sebagai calon dari Partai Golkar Alzier dengan gamblang telah meminang PKS sebagai partner koalisi. Bahkan, dengan lugas sang Ketua Partai Golkar menyatakan dia sebagai calon gubernur dari Golkar ingin menggandeng wakilnya dari PKS.

Perkawinan ini banyak yang meyakini wajar saja karena di berbagai daerah koalisi dua partai ini juga terjadi. Di Lampung ada contoh yang gamblang, yaitu ketika Partai Golkar mengusung Satono dalam Pilkada Lampung Timur, yang didukung PKS. Jadi, orang tidak heran jika PKS dengan segera mendukung kadernya menjadi calon wakil gubernur periode 2009–2014.

Gabungan dua partai ini tentu saja ideal; Partai Golkar sebagai pemenang pemilu, PKS diyakini memiliki mesin politik yang solid. Atau bisa juga diartikan sebagai gabungan yang serasi antara partai tengah dan partai Islam. Apalagi secara lugas Alzier merujuk orang Jawa yang berasal dari Tanggamus. Dengan mudah orang merujuk nama wakil ketua DPRD Lampung, yaitu Gufron.

Dengan merangkul Gufron, timnya Alzier sudah menggabung dua point sekaligus; isu PKS sebagai mesin politik dan isu Jawa. Namun, gagasan koalisi itu terbukti hanya sepihak, alias bertepuk sebelah tangan. Hingga kini PKS belum menyatakan sikapnya, tidak menolak atau menerima pinangan Partai Golkar.

Akhirnya Partai Golkar sebagai perahu besar (bukan jukung), berhasil menggaet Bambang Sudibyo sebagai calon wagub berpasangan dengan Alzier. Tidak Gufron, Bambang pun jadi. Wong Jowo, Pringsewu pula. Tidak PKS, tapi tentara. Namun, dalam proses penjajakan koalisi sampai di sini Partai Golkar tidak berhasil memperoleh gizi pemupuk citra partai maupun citra sang calon.

Koalisi, Menjegal Calon Alternatif

Setelah gagal meraih dukungan PKS, Partai Golkar sibuk mendaftarkan ketuanya pada setiap partai yang melakukan penjaringan. Hingga kini yang sudah deklarasi mendukung Alzier adalah PPP. Dan sudah di depan mata adalah PKB yang kini sedang dibekukan. Kemudian sepak terjang gerakan Partai Golkar dalam Pilgub Lampung tahun ini diyakini berusaha keras ingin memborong perahu tengah.

Tujuannya jelas, Pilgub Lampung kali ini diarahkan seperti skenarionya Pilgub DKI Jakarta yang hanya menyisakan dua pasangan Fauzi dan Adang. Oedin tidak mau kalah gertak. Ia juga bergerak merayu PKS setelah memperoleh dukungan tujuh partai.

Bagi keduanya, Oedin maupun Alzier, jika skenario ini berjalan mulus, tentu sangat menguntungkan; jika hanya dua pasang, akan memperbesar peluang; Alzier atau Oedin. Sebab, pilgub juga menjadi ajang bagi keduanya untuk membuktikan siapa yang berhak menjadi gubernur. Rakyat Lampung sebagai pemutusnya.

Dengan begitu pilgub kali ini akan menjadi ajang pembuktian siapa yang menang; Alzier atau Oedin. Seperti gamblangnya dunia sinetron, konflik politik Lampung yang berlarut-larut sepanjang lima tahun terakhir antara Alzier sebagai “gubernur terpilih” dan Sjachroedin sang gubernur de jure dan de facto.

Kita dapat menyaksikan sepak terjang keduanya sangat gamblang merefleksikan keinginan keduanya menjadikan pilgub ini sebagai grand final. Ada sinyal kuat yang menggambarkan kompetisi keduanya; siapa yang kuat, siapa yang kaya, siapa yang benar, siapa yang dipilih rakyat.

Ekses kompetisi ini adalah menutup hadirnya calon lain. Karena dari psikologi politik, jika dua orang ini berseteru di ruang pilgub, kemungkinan besar pilihan rakyat akan diberikan tidak pada keduanya, tetapi pada calon alternatif.

Gerakan ini dijelaskan betapa posisi PKS yang strategis, telah diperebutkan Alzier maupun Sjachroedin. Tentu gambaran ini bagi PKS adalah poin tersendiri. Tetapi, sekaligus menjadi ujian baginya.

Sebab, pada babak berikutnya telah kita saksikan koalisi yang dibangun diarahkan sebagai upaya untuk penjegalan calon yang populer. Cara yang elegan memang adalah memborong dan mengelompokkan partai-partai menjadi pendukung Ketua PDI-P atau pendukung Ketua Golkar.

Tentu masih ada cara lain yang telah dan akan dilakukan agar orang seperti Andy Achmad gagal mendapatkan perahu. Sebab, calon ini memiliki modal popularitas, semangat berjuang, dan logistik yang dapat mengimbangi bahkan mengalahkan keduanya.

Yang jelas, sejumlah koalisi yang telah dibangun semula untuk membangun citra kini dapat dimaknai sebagai upaya menjegal calon alternatif. Akan lebih merepotkan jika pilgub diikuti lebih dari dua calon. Calon lain dikhawatirkan yang justru akan panen limpahan suara.

Entahlah apa akhir dari sinetron ini dan apa jadinya karena bursa calon tinggal menyisakan Zulkifli, Hairi Fasyah maupun Suharto. Entahlah kalau peluang calon independen hidup kembali, mungkin Muhajir, Irfan, dan calon lain. Hingga kini panggung pilgub masih dikuasai Partai Golkar dan PDI-P. Pergulatan masih berlangsung di partai-partai tengah; PKS, PAN, PBR, PD.

Banyak yang berharap pada sejumlah partai dan kepada manajemen partai-partai tersebut. Menjadi pengekor dan menikmati hasil lelang atau momen pilgub menjadi ajang pembuktian kinerja partai dan sebagai warming up prakompetisi yang sesungguhnya pada Pemilu 2009.

Apakah partai-partai tengah tersebut mampu menangkap keinginan rakyat Lampung yang menghendaki suasana politik yang kondusif untuk menyelesaikan sejumlah problem rakyat. Atau ikut permainan membajak aspirasi rakyat dan menyandera demokrasi? Dan memperpanjang konflik? Jika itu terjadi dan kisruh politik terulang? Rakyat juga yang bakal rugi dan menderita berkepanjangan.

Sebagai penonton, betapapun riuhnya perebutan parpol dan gegapnya kampanye, saya mencoba menangkap sinyal yang tidak kalah asyiknya. Menyaksikan drama politik menjelang pilgub, orang skeptis berucap; pilgub kali ini akan menyisakan dua calon.

Kita akan menyaksikan pilgub seperti arena adu kambing, yang kalah terus ngeloyor meninggalkan Lampung (walaupun ngaku-nya orang Lampung). Inilah politik adu kambing. Source : Opini Lampung Post

1 Komentar »

  1. Dunia politik sangat2 dinamis, hari ini A, besok bisa B…C…ataw D
    Apa yang terjadi pada kehidupan politik lampung hari ini harapannya dapat membawa perubahan yang signifikan bagi kemajuan lampung ke depan.
    Fenomenanya saat ini, para elite politik yang ada di lampung berlomba2 untuk merebut BE 1 provinsi lampung, entah apa yang ada di hati kecil mereka ketika dgn semangat yang menggebu2 berusaha mendapat kan perahu untuk BE 1 tsbt,,,,,,
    Semoga saja smw niat mereka adalah niat yang mulia demi lampung tercinta………
    Lampung butuh karya nyata kita smwa!

    Komentar oleh David — Maret 24, 2008 @ 5:16 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: