Hipmala ku sayang….

Maret 13, 2008

Lampura Bersiap Jadi Penghasil Kambing

Filed under: Tak Berkategori — hipmala @ 5:55 am
Tags:

Melihat prospek pengembangan ternak kambing di Kabupaten Lampung Utara (Lampura) sangat bagus dan menjanjikan. Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (PPP) merencanakan bahwa Kabupaten Lampura bisa menjadi penghasil dan penampung kambing pada tahun 2009. Hal tersebut dikatakan Subdin Peternakan pada Dinas PPP Lampura A. Parman kemarin.
Menurutnya, kawasan Lampura banyak petani lada dan kopi. Karena itu, wilayah ini cocok untuk usaha beternak kambing. ’’Kambing sangat bagus bila diternakkan dekat perkebunan lada dan kopi. Karena sekitar perkebunan tersebut banyak terdapat alang-alang, sehingga pakan ternak kambing akan dengan mudah tersedia,” ujarnya.
Dikatakan Parman, sentra ternak kambing untuk wilayah Lampura terletak di Kecamatan Bukitkemuning dan Tanjungraja. Karena di daerah tersebut merupakan sentra pakan ternak kambing. Untuk diketahui, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007, Lampura telah memiliki kambing sebanyak 2.580 ekor.
Sedangkan untuk perkembangan sapi, difokuskan pada wilayah yang menghasilkan banyak padi. Sebab, kotoran sapi sangat baik jika dipergunakan sebagai pupuk di lahan sawah yang ditanamani padi. ’’Ternak sapi difokuskan di daerah Kecamatan Abung Timur, Abungsurakarta, dan Abungsemuli. Sebab, di daerah tersebut adalah sentra tanaman padi. Sehingga membutuhkan pupuk yang lebih banyak dibandingkan dengan daerah lain. Sedangkan kita ketahui bahwa kotoran sapi sangat bagus dijadikan pupuk,” papar Parman.
Sedangkan dari tahun 2004 sampai dengan 2007, ternak sapi yang dimiliki Lampura sebanyak 705 ekor. Karena itu, Lampura tidak perlu khawatir dengan stok ternak hewan, terutama kambing dan sapi. ’’Apabila perkembangan hewan ternak lebih baik untuk ke depan, tidak tertutup kemungkinan Lampura akan dijadikan sentra ternak kambing,” kata Parman. (*) Source: Radar Lampung

1 Komentar »

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
    Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
    Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

    Komentar oleh omyosa — Maret 28, 2008 @ 6:08 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: