Hipmala ku sayang….

Maret 19, 2008

Laras Bahasa:Kreativitas Berbahasa

Filed under: Tak Berkategori — hipmala @ 4:45 am
Tags:

Agus Sri Danardana *)

HARUS diakui bahwa sebagian besar orang Indonesia masih menganggap bahasa (Indonesia) sebagai alat komunikasi antaranak bangsa, hanya berfungsi sebagai “penyampai maksud”. Sebab, menganggap bahasa hanya sebagai alat penyampai maksud, kelompok ini berprinsip yang penting orang lain tahu maksudnya.

Akibatnya, kelompok ini abai pada kaidah bahasa serta tidak memiliki sikap positif dan daya cipta (kreativitas) dalam berbahasa. Kalaupun berkreasi, mereka tidak mengindahkan kaidah bahasa sehingga hasil kreasinya itu sering memunculkan tafsir yang justru bertentangan dengan yang mereka maksudkan.

Program pengentasan kemiskinan, misalnya, pada awalnya tentu dimaksudkan sebagai program untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kemiskinan di negeri ini. Namun, dengan digunakannya kata pengentasan, program itu kini bertafsir “mengangkat (jika tidak boleh dikatakan memamerkan) kemiskinan, bukan membasminya”.

Di samping memiliki fungsi informatif dan ekspresif, bahasa juga memiliki fungsi direktif, estetik, dan fatique. Ketiga fungsi bahasa yang disebut terakhir itulah yang kini sering dilupakan orang sekalipun sangat menentukan keberhasilan sebuah komunikasi. Barangkali itulah penyebabnya: Orang yang tidak mempunyai pekerjaan, rumah, dan pendengaran diperhalus menjadi tunakarya, tunawisma, dan tunarungu; tempat sidang di pengadilan, penjara, dan mati (agar tidak menimbulkan kesan menakutkan) disebut meja hijau, terali besi, dan meninggal dunia; serta agar terkesan hormat, kata kamu tidak digunakan untuk menyapa, tetapi Saudara, Anda, Bapak, Tuan, dsb.

Yang pantas disayangkan, kesadaran akan kreativitas berbahasa seperti itu sering tidak diikuti dengan kesadaran akan kecermatan berbahasa. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika bentuk bahasa yang dihasilkan sering membingungkan. Dalam proses penangkapan pesakitan, misalnya, pada kenyataannya polisi sering melakukannya dengan kekerasan. Anehnya, peristiwa itu selalu dikatakan bahwa polisi telah mengamankannya. Padahal, rasa aman itu belum tentu diperoleh pesakitan.

Dalam kasus yang lain, sikap kurang positif terhadap bahasa (Indonesia) seperti itu kini banyak dipamerkan para pengisi siaran di media massa elektronik. Perhatikan kutipan dialog berikut.

A (pewawancara): Calon sudah ada, lalu kapan Anda merried?

B (narasumber): Wah, kalau soal itu, mungkin kita nikah tahun depan.

Di samping gemar menghiasi bahasa Indonesia dengan kata-kata asing (terutama Inggris), mereka juga sering melakukan “pemerkosaan” bahasa. Kata ganti kita, misalnya, telah mereka perkosa untuk menggantikan kata saya atau kami. Mungkinkah gejala ini merupakan tanda bahwa krisis identitas memang sedang terjadi di negeri ini? Identitas diri (personal) yang dilambangkan kata saya itu kini telah diperkosa menjadi identitas bersama (komunal) yang dilambangkan kata kita.

Seiring dengan datangnya era globalisasi seperti sekarang ini bangsa Indonesia perlu meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan di berbagai bidang, tidak terkecuali di bidang kebahasaan. Hal itu disebabkan bahasa, terutama bahasa Indonesia, di samping berfungsi sebagai sarana komunikasi, juga berperan sebagai pendorong terciptanya peradaban baru yang santun.

Dahulu, nenek moyang kita juga gemar menyembunyikan identitasnya. Akan tetapi, penyembunyian itu dilakukan untuk tujuan mulia: Agar tidak ada kesan menyombongkan diri. Itulah sebabnya, dahulu, banyak karya yang anonim. Karya-karya itu tidak diketahui secara pasti siapa penciptanya sehingga dianggap karya bersama. Hal seperti itu kini tidak terjadi lagi. Sebaliknya, kini banyak yang justru mengakui karya orang lain. Bagaimana ini? Ironis bukan? n Source: Lampung Post

*) Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: