Hipmala ku sayang….

Maret 27, 2008

Ekspor Beras Sebuah Anomali

Filed under: Tak Berkategori — hipmala @ 9:06 am
Tags:

anomaliSETELAH harga beras di pasaran dunia mencapai level US$700 per ton, lahir kecemasan baru. Yaitu larinya beras Indonesia ke pasar luar negeri karena tergiur disparitas harga yang tinggi.

Itu sesungguhnya kecemasan yang lucu. Karena, selama ini, kita jauh lebih dikenal sebagai pengimpor daripada pengekspor beras. Dan defisit atas pemenuhan kebutuhan beras dalam negeri masih terus berlangsung. Namun, itu bisa saja terjadi karena harga beras di dalam negeri saat ini berkisar antara US$300 hingga US$400 per ton. Sebaliknya, di luar negeri, harga terus merambat melewati US$708 per ton. Pedagang dan spekulan tentu tergoda meraih keuntungan dari peluang itu.

Apalagi modus dan situasinya sama dan sebangun dengan yang sudah lama terjadi pada komoditas lain, seperti minyak bumi, gas, pupuk, crude palm oil (CPO), semen, dan batu bara.

Pemerintah, melalui Menko Perekonomian Boediono, telah berjanji akan mengamankan pasokan beras dalam negeri. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah dengan mengenakan bea keluar beras. Selama ini, tidak ada pengenaan bea keluar untuk beras karena Indonesia lebih sering mengimpor daripada mengekspor.

Pertanyaannya adalah seberapa jauh langkah itu akan ditempuh? Sampai di mana efektivitas bea ekspor beras untuk menghalangi mengalirnya komoditas yang sangat dibutuhkan itu ke luar negeri?

Ini relevan, mengingat mekanisme yang sama terbukti tidak mampu mengatasi gejala sejenis yang sudah berlangsung lama, pada CPO, gas, pupuk, dan minyak mentah. Pemerintah boleh saja mengenakan bea ekspor, tetapi nyatanya komoditas tersebut tetap saja mengalir ke luar negeri, baik secara legal maupun ilegal melalui penyelundupan.

Dampak dari situasi itu pun menjadi beban baru yang ditanggung masyarakat. Karena, selain menjadi langka, harga komoditas itu pun ikut-ikutan melambung mengikuti harga pasaran internasional.

Karena itu, pemerintah harus benar-benar mempelajari, mengkaji, serta mengantisipasi gejala baru ini. Jangan sampai kondisi yang dikhawatirkan berkembang menjadi situasi yang tidak terhindarkan.

Mengutuk dan mencaci globalisasi, pasar bebas, dan kapitalisme sebagai penyebab semua ironi dan anomali itu boleh-boleh saja. Namun, ia akan lebih menyulitkan daripada memudahkan persoalan.

Bersikap positif dengan bekerja lebih keras, lebih kreatif, lebih inovatif, dan lebih efektif akan jauh lebih realistis meskipun itu bukan langkah yang mudah.

Selain mengenakan bea keluar yang efektif, pemerintah semestinya mampu membuat Departemen Pertanian dan Perum Bulog bekerja ekstra keras agar stok beras nasional aman.

Pikiran tentang ekspor beras saat ini adalah sebuah anomali. Karena kita belum mencapai status swasembada. Anomali itu melengkapi anomali yang lain, terutama dalam sektor pangan dan energi. Yaitu sampai sekarang Indonesia tidak memiliki politik cadangan strategis nasional.

Karena itu, masuk akal ketika kita kelebihan CPO, tetapi di dalam negeri rakyat menjerit kekurangan minyak goreng. Kita memiliki batu bara, tetapi di dalam negeri pembangkit-pembangkit listrik kekurangan bahan bakar. Hal yang sama terjadi dengan gas.

Kita berharap, itu tidak terjadi pada beras.

Editorial: Media Indonesia

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: