Hipmala ku sayang….

Maret 29, 2008

Syarat Sarjana untuk Presiden

Filed under: Birokrasi — hipmala @ 6:24 am
Tags:

Mega Vs Gusdur

SALAH satu topik yang hangat dibicarakan di DPR dalam pembahasan revisi Undang-Undang Pemilihan Presiden, adalah soal syarat pendidikan formal seorang calon presiden. Ada partai tertentu yang menghendaki syarat presiden adalah sarjana. Ada yang mempertahankan ketentuan undang-undang terdahulu, yang menetapkan seorang presiden sekurang-kurangnya berpendidikan SMA (ijazah).

Di luar syarat sarjana, DPR juga mulai sibuk mempersoalkan lagi syarat kesehatan. Terutama penafsiran klausul tentang ‘sehat lahir dan jasmani.’

Menafsirkan kembali dua syarat ini setiap kali menjelang pemilihan presiden mempertegas tentang satu hal. Yaitu, ketentuan undang-undang di Indonesia adalah personal. Ini menyalahi asas undang-undang itu sendiri, yaitu impersonal.

Soal syarat sarjana diperdebatkan lagi, karena Megawati Soekarnoputri yang dijagokan PDI Perjuangan cuma berijazah SMA. Dengan mematok syarat sarjana, maka seorang Megawati yang pernah menjadi presiden, akan terganjal.

Demikian pula dengan syarat kesehatan. Syarat ini diperdebatkan lagi karena terdengar berita bahwa Gus Dur yang pernah menjadi presiden dengan hambatan fisik (permanen?) ingin mencalonkan diri lagi sebagai presiden dalam pemilu tahun depan.

Konstitutsi, di lain pihak, tidak menyebut tentang syarat sarjana untuk menjadi presiden. Konsitusi juga tidak mengatur soal cacat permanen, tetapi hanya menetapkan seorang calon harus ‘sehat jasmani dan rohani’.

Jabatan presiden dan anggota parlemen serta posisi-posisi otoritas publik yang direkrut melalui pemilihan umum, pada prinsipnya haruslah dibuka seluas mungkin, dengan syarat-syarat yang sesedikit mungkin. Mengapa?

Pada jabatan-jabatan yang diisi melalui pemilu itulah tercermin kedaulatan rakyat secara utuh dan fungsional. Esensi demokrasi adalah keterbukaan seluas mungkin bagi partisipasi publik.

Rakyat tidak mungkin berpartisipasi luas untuk jabatan jaksa agung, hakim, dan polisi. Untuk hakim, adalah kebodohan bila tidak mengharuskan kapasitas dan kompetensi seorang sarjana hukum. Dengan demikian, inilah jabatan yang tidak mencerminkan demokrasi secara luas.

Syarat sarjana untuk seorang calon presiden adalah tuntutan yang mengada-ada. Presiden adalah jabatan yang membutuhkan bobot kepemimpinan lebih dominan daripada bobot keahlian. Karena itu, ini adalah jabatan yang bisa diisi oleh mereka yang memiliki kapabilitas dan kapasitas serta kecakapan memimpin. Jelas ini bukan jabatan spesialis, tapi generalis.

Seorang Soekarno dan Hatta ditetapkan menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia pertama bukan karena Soekarno yang bergelar insinyiur dan Hatta yang bergelar doktorandus. Tetapi lebih disebabkan karena kapasitas, kapabilitas dan kecakapan memimpin.

Seorang Adam Malik yang otodidak, bisa menjadi menteri luar negeri yang disegani. Seorang yang bergelar profesor doktor, belum tentu mampu memimpin dan juga belum tentu lebih cakap.

Karena itu, kembalikan saja pada perintah dan semangat konstitusi dalam menentukan calon presiden. Janganlah dikarang-karang syarat yang mengganjal calon tertentu agar memuluskan calon yang lain.

Undang-undang harus dikembalikan pada asas dasarnya yang impersonal. Supremasi hukum mengandung hakikat bahwa manusia harus taat pada undang-undang, bukan undang-undang yang taat pada kemauan liar manusia. Hanya dengan begitu supremasi hukum dapat ditegakkan dan demokrasi bergairah. Source: http://www.inilah.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: