Hipmala ku sayang….

Juli 11, 2008

Pembusukan Demokrasi

Filed under: Politik — hipmala @ 3:31 pm

DEMOKRASI sebagai jalan yang sudah dipilih oleh bangsa ini memang belum berumur panjang. Praktis, jalan menuju demokrasi baru diretas sepuluh tahun lalu, saat era reformasi menggantikan rezim Orde Baru.

Namun, usia yang masih belia ternyata telah mampu mengubah wajah politik Tanah Air secara signifikan. Kebebasan berpikir dan berbicara telah melahirkan pers yang bebas. Kebebasan berserikat memunculkan partai-partai politik dengan beragam tawaran dan gagasan. Hasrat membuat partai begitu menggebu walaupun tanpa memedulikan bangunan partai yang kukuh.

Seiring dengan itu pula, demokrasi juga sedang mengalami pembusukan. Celakanya, pembusukan itu lebih banyak berasal dari dalam elemen demokrasi itu sendiri.

Partai politik dan orang-orang yang berkiprah di parpol memang terus tumbuh, tapi mereka gagal menjadi alat agregasi kepentingan rakyat. Bahkan, kiprah mereka di lembaga resmi demokrasi lebih banyak menyuarakan kepentingan pribadi dan kepentingan sempit partai ketimbang membawa suara publik.

Untuk mempertahankan dan menjaga kepentingan sempit itu, mereka mempertahankan mati-matian pola rekrutmen politik usang yang jauh dari jalan demokrasi. Dalam hal sistem pemilihan umum, misalnya, mereka ngotot mempertahankan model proporsional ketimbang distrik.

Alasannya, mereka menyebut masyarakat belum siap dengan sistem distrik. Padahal, parpol dan orang-orang yang mengendalikan parpol itulah yang tidak siap berkompetisi dalam sistem distrik.

Karena itulah, tidak mengherankan jika hampir setiap survei yang dilakukan sejumlah lembaga riset menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap parpol sangat rendah.

Salah satu penyebabnya ialah partai tidak peduli keinginan masyarakat. Partai asyik dengan keinginannya sendiri. Gambaran itu tampak sangat jelas dari hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2007 dan 2008.

Hasil survei terbaru yang dipublikasikan pekan lalu menunjukkan hanya 18,6% responden pada 2007 dan 20,2% pada 2008 yang mengatakan keinginan partai mewakili keinginan pemilih. Cara pemilihan anggota DPR dinilai lebih mewakili kepentingan parpol, bukan pemilih. Hanya 28,1% yang percaya cara pemilihan anggota DPR bisa mewakili kepentingan pemilih.

Memang, dalam memilih anggota DPR, suara hanya sah bila rakyat mencoblos tanda gambar partai dan tidak sah bila hanya mencoblos nama orang yang dicalonkan. Pada dasarnya yang dipilih adalah partai, bukan person yang akan menjadi wakil rakyat di DPR. Hasil survei itu juga menunjukkan 76,9% masyarakat pada 2007 dan 66,6% pada 2008 meyakini cara pemilihan anggota DPR dengan sistem proporsional dengan memilih gambar partai lebih buruk daripada anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih langsung.

Masyarakat juga menilai anggota DPD lebih mudah dimintai pertanggungjawaban daripada anggota DPR. Itu paralel dengan penilaian mereka bahwa cara pemilihan anggota DPR lebih mewakili kepentingan parpol, bukan kepentingan pemilih.

Hasil survei tersebut secara kasatmata memperlihatkan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada parpol dan anggota DPR yang tidak bisa lain harus berasal dari parpol. Tetapi anehnya, Mahkamah Konstitusi malah memberikan jalan yang lempang bagi orang-orang parpol untuk juga bisa masuk menjadi calon anggota DPD.

Itu sama saja dengan memperluas pembusukan lembaga-lembaga resmi demokrasi. Kepercayaan terhadap DPD yang anggotanya dipilih langsung oleh rakyat akan tergerus oleh masuknya orang parpol yang membawa virus ketidakpercayaan.

Karena itu, kalau ingin pembusukan tidak meluas, yang harus dilakukan justru merombak sistem rekrutmen anggota DPR dengan menggunakan pola pemilihan anggota DPD. Yaitu calon perorangan juga berhak menjadi anggota DPR. Atau anggota DPR yang dicalonkan partai dipilih dengan cara mencoblos nama orang yang dicalonkan. Nomor urut tidak penting, siapa yang mendapat suara terbanyak dialah yang terpilih.

Kalau itu tidak dilakukan, bayi demokrasi ini akan terus didera sakit kronis yang mematikan.

 

2 Komentar »

  1. Ide yang bagus kalau kita memilih orang, jadi kita dapat memilih yang sesuai dengan harapan kita sendiri.

    Komentar oleh Singal — Juli 12, 2008 @ 4:53 am | Balas

  2. Sampai kapan kita terus menganggap demokrasi yang kita bangun ini bayi?
    Usul saja, gimana kalau malah kita berpikir secara radik?
    Yang diubah justru pemahaman kita sebenarnya demokrasi itu APA? Dan demokrasi MACAM APA sebenarnya yang mau kita bangun. Demokrasi yang dimaksud dalam tulisan ini BAGAIMANA? Sistem yang diusulkan di dalam tulisan ini sesuai ga dengan demokrasi yang kawan maksud di tulisan ini?
    Makasih. Salam.

    Komentar oleh Arie — September 10, 2008 @ 7:11 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: